Archive for December, 2007

Never Far Away…..

Sunday, December 23rd, 2007

Tuhan memang tidak pernah berjanji bahwa langit akan selalu biru, bunga-bunga bertebaran disepanjang jalan kehidupan.
Tapi Tuhan menjanjikan kekuatan kepada kita utk melalui saat-saat dimana langit hujan dan kelabu, melewati jalan-jalan sulit dan berbatu.


Namun, mengapa seringkali ketika kita mulai mendapat kekuatan untuk melewati badai dan langit kelam… jalan terjal dan berbatu tajam…
saat kita mulai dapat melihat bahwa dibalik
Duty1awan kelam, masih ada langit biru…
dapat melihat bahwa diantara bebatuan, masih ada sedikit bunga liar tumbuh…
kita kembali mengalami badai yg lebih hebat, bebatuan yang lebih tajam???



Bertahan…..

Mengapa seringkali sulit untuk bertahan?

Adakah Tuhan memampukan kita melewati semuanya?

Kita boleh jadi sadar bahwa Tuhan itu ada.

Tetapi, seringkali yang terjadi adalah…kita tidak ingat bahwa Tuhan itu selalu ada.


 

 

Duty2

Saya seringkali mengalami hal ini.
Rasa terpuruk, menggali lubang sendiri dan
memerosokkan diri semakin dalam.
Membelenggu diri dengan rantai besi.

 

Di awal bulan Desember ini,

Ketika hujan senantiasa membahasi bumi,

Ketika mata menatap tetes-tetes hujan di balik jendela kaca,

Ketika kepala menunduk menatap jalanan yang basah,

Saya teringat pada suatu klip dari sebuah website yang saya temukan 4 tahun yang lalu.

http://www.donghaeng.net/english/flash/flash12.htm

(please turn on your speaker)

Duty3
Klip yang membuat saya tanpa terasa merasakan sesak di dada dan hangat di mata.
Membuat saya kembali menyadari bahwa HIDUP ini adalah anugerah dan tugas Tuhan bagi saya.

 


Kesetiaan…..

Masih mampukah bertahan dengan setia, untuk menghargai anugerah dan menjalani tugas?

Ketika angin kencang menerpa, dingin meremukkan seluruh persendian,

Ketika terik matahari membakar, panas melepuhkan seluruh kulit,

Ketika tanpa terasa, airmata tidak lagi mampu mengalir,

Ketika diri tak lagi mampu berdiri di atas kedua kaki,

Ketika merangkak pun terasa sulit,

Saat itu saya sadar untuk segera mengangkat kedua tangan saya ke atas, dan membiarkan Tuhan menurunkan tangan-NYa……..

# Nobody knows when this journey ends,
But everyone knows that there is an end…


(thanks to www.donghaeng.net,  really a great work…GBU

Sampah berkedok Barang Rongsokan ?!

Saturday, December 8th, 2007

Garbage
Saya termasuk orang yang senang
menyimpan barang-barang lama, dengan alasan “dibuang sayang”, atau “mungkin
suatu saat saya akan memerlukannya”, atau “barang ini punya kenangan khusus
bagi saya”.

Sehingga jujur, rumah saya penuh
dengan barang-barang lama, yang mgkn setengah rusak, bahkan rusak atau tidak
terpakai lagi bertahun-tahun.

Terkadang, apabila ada barang yang
rusak, saya tidak akan membuangnya, akan tetap saya simpan, dengan niat, akan
saya perbaiki….namun nyatanya, tidak pernah saya perbaiki :-) Beautiful_garbage

Terkadang, bila membereskan
rumah, saya mengumpulkan barang-barang yang tidak diperlukan, dengan dalih,
nanti akan saya sortir kembali, apakah benar barang-barang tersebut sudah tidak
dapat digunakan sama sekali….namun nyatanya, saya tidak punya cukup waktu untuk
membuka kembali kotak / kantong tempat saya menampung sementara barang-barang
tersebut.

Lama kelamaan, saya merasakan
rumah saya penuh sesak.
Lama kelamaan, saya mulai kesulitan mencari tempat untuk menyimpan
barang-barang lain yang masih berguna.

Lama kelamaan, saya merasa
barang-barang tua itu menimbulkan masalah.

Tumpukan barang rongsokan mulai
mengundang makhluk kecil berwarna hitam berjulukan “mickey mouse”…. :-)

Tentu nya ini bukan makhluk
menyenangkan dari Disney World….ini makhluk menyebalkan yang dapat membawa
penyakit.

Rasanya, sudah waktunya bagi saya
untuk sungguh-sungguh membereskan masalah “rongsokan-sampah” ini di rumah saya.

 

Hal yang serupa, terjadi di “rumah
hati” saya.

Ada banyak hal, banyak kenangan
dan banyak orang berseliweran dalam hidup saya…menari-nari dipikiran saya, dan
nongkrong di rumah hati saya.

Sebagian masih menjadi present
tense bagi saya,

Sebagian present continuous tense,

Namun sebagian lagi sudah menjadi
past tense bagi saya.

 

Setelah menyadarinya, saya
menemukan analogi rumah hati saya dan rumah saya..

Analogi hal-hal yang berseliweran
dalam hidup saya dan barang-barang rongsokan lama saya.

Tanpa saya sadari, kenangan lama yang
buruk, yang mgkn saya harap dapat berubah menjadi baik…masih bertenggeran
bertahun-tahun dalam rumah hati saya.

Tanpa saya sadari, orang-orang
yang seharusnya menjadi “tokoh sejarah” bagi saya, ternyata masih saya anggap
dan perlakukan sebagai “tokoh masa kini”.

Tanpa saya sadari, kenangan lama
atau orang-orang yang menjadi “rongsokan” dalam hidup saya, masih tetap saya
simpan, dengan harapan bisa saya perbaiki suatu saat….tanpa saya pernah sadari
bahwa “rongsokan” tersebut sebenarnya hanyalah “sampah” yang tidak berarti…rongsokan
itu sudah tidak dapat diperbaiki sama sekali.

Beberapa “rongsokan” itu bahkan
sudah menjadi “sampah” yang menimbulkan masalah bagi saya…

menjadi sumber “penyakit” bagi
saya… membuat “luka” bagi saya.

 

Seperti niat saya membersihkan
rumah saya dan menyortir barang-barang saya dari barang-barang tidak berguna,
demikian pula yang saya lakukan dengan “rumah hati” saya.

Tiba saatnya bagi saya membuang “sampah”
yang semula saya kira barang rongsokan yang masih dapat diperbaiki.

Karena ternyata “sampah” ini
sudah menjadi masalah bagi saya…sudah membuat saya sakit.

Menyedihkan ketika harus membuang
barang tua yang telah sekian lama berdiam di dalam rumah, meskipun terkadang,
kehadirannya pun jarang terasa…namun saya seakan tahu, bahwa barang itu ada
disana, pada tempatnya dan bersama saya bertahun-tahun.

Namun, lebih menyedihkan lagi,
mengetahui masalah, sakit dan luka yang ditimbulkan oleh barang tua tersebut.

 

Sehingga, dengan berusaha
menikmati rasa sakit dan berteman dengan kesedihan….minggu lalu saya mengumpulkan
barang rongsokan dari rumah hati saya dan melemparkan nya ke dalam api yang
menyala, sebagian lagi saya lemparkan ke tong sampah….dengan pemikiran, biarkan
pemulung yang memungutnya. Dan apabila pemulung tersebut membawanya ke tempat
daur ulang, harapan saya, barang tersebut dapat di daur ulang…itu akan jauh
lebih baik, karena saya tidak mampu untuk mendaur-ulangnya ,

Mudah-mudahan barang rongsokan
itu setelah di daur ulang, dapat kembali digunakan, atau berubah menjadi
sesuatu yang dapat digunakan untuk keperluan lain…..yang mana pun tidak
masalah, semuanya jauh lebih baik daripada barang tersebut terus bercokol di
rumah hati saya dan lama kelamaan menyakiti saya.

 

Ternyata, apa yang saya lakukan
ini, melegakan….

Rumah hati saya terasa lebih
longgar….lebih segar dan tidak terlalu sesak lagi.

Meskipun saya membutuhkan banyak
waktu untuk membereskan semuanya….karena sudah terlalu banyak saya menimbun
barang-barang rongsokan dalam rumah hati saya.

Ya….saya harus melanjutkan
menyortir barang-barang tersebut,

Saya akan berusaha memperbaiki
barang yang masih dapat diperbaiki, namun disamping itu saya akan belajar untuk
membuang barang yang tidak dapat diperbaiki.

Mungkin apabila barang rongsokan
yang saya buang itu dapat berbicara,

Mungkin ia akan berkata saya
kejam, tidak menghargai kenangan yang sudah diberikannya kepada saya…

Mungkin ia akan memohon kepada
saya untuk dibiarkan tetap menghuni salah satu sudut rumah hati saya….dan
berjanji tidak akan mengganggu saya, atau menimbulkan masalah bagi saya,
asalkan ia dibiarkan tetap dalam rumah hati saya.

Tidak….meskipun barang rongsokan
itu dapat berbicara, bahkan berteriak menjerit sekalipun,

Saya tidak akan peduli…..dan
dengan tegas akan saya katakan kepadanya….

“Sadarlah, engkau tidak lebih
dari sampah…..”

Sampah yang saya biarkan menjadi
penyakit bagi saya.

Saya sudah cukup hidup dan
berteman dengan sampah yang berkedok barang rongsokan atau barang kenangan.

…………………………………………………. Sudah
saatnya saya membersihkan dan menata rumah hati saya

#
Mohon maaf bagi sampah-sampah yang mengira dirinya adalah barang rongsokan yang
layak disimpan. Seharusnya sampah-sampah itu sadar dan dengan rela digiring ke
tempat daur ulang, dimana mgkn mereka akan dapat diperbaiki atau dijadikan
sesuatu yang membuatnya kembali berguna….karena saya sudah tidak mampu lagi hidup berteman dengan sampah.