Archive for November, 2007

dear “Mr.President”

Wednesday, November 28th, 2007

Mother_teresa

Apa yang manusia cari di dunia ini?

Apa yang anda cari di dunia ini?

Apa yang saya cari di dunia ini?

…dalam hidup,

…dalam apa yang dilakukan?

Sebagian orang akan menjawab dengan
mudah.

Mencari uang, mencari kesenangan,
mencari kehormatan, karir……dsb.

Pernahkah anda mendengar seseorang
berkata,

“saya hanya mencari sedikit makanan
hari ini, karena tiga hari yang lalu adalah hari terakhir saya makan.”

Ironis….

Mungkin kita sering mendengar jawaban
seperti tadi, terutama ketika kita berada diperempatan, di lampu merah, ketika
seorang pengemis, pengamen, atau anak jalanan menghampiri kendaraan kita dan
meminta uang receh.

Lantas, apa yang biasanya kita lakukan?

Simple..angkat tangan sedikit ke arah
jendela (tentunya tanpa perlu membuka kaca mobil..), goyangkan/lambaikan tangan
sedikit, dan efeknya…orang tadi akan pergi, pindah ke kendaraan lainnya.

Bagi sebagian besar kita, peristiwa
tersebut mungkin merupakan cerita lama yang membosankan.

Sedikit ingin berbagi cerita,

Saya sebagai seorang pekerja, sudah
pernah merasakan berbagai macam kendaraan yang bisa menghantar saya ke kantor.

Saya pernah naik mobil pribadi, pernah
naik bis kota, pernah naik transjakarta, pernah mengendarai motor.

Suatu kali, saya pulang kantor dan
memutuskan untuk naik bis biasa.

Setelah berganti bis 2x dari sudirman
ke grogol, saya berniat naik transjakarta untuk sampai ke cengkareng dimana
saya tinggal.

Saya turun di depan Mall Citraland, dan
saya jalan kaki kea rah halte busway (Jelambar). Di depan mall tersebut, ada
pagar pembatas 2 arah yang disediakan khusus bagi pejalan kaki yang menuju mall
tersebut.

Ketika sedang menikmati perjalanan kaki
saya, tiba-tiba mata saya tertuju pad 2 sosok anak kecil (laki-laki) yang tidur,
persis di jalan yang berpagar tsb. Waktu itu kira-kira pukul 9 malam. Di jalan
sesempit itu, mereka berdua tidur, yang satu berusia sekitar 8 th, dan satu
lagi(mgkn adiknya) kira-kira berumur 4 atau 5 tahun.

Namun apa yang membuat saya kaget dan
merasa miris adalah, anak yang lebih kecil, tidur tanpa memakai celana sama
sekali…sehingga (maaf) alat vitalnya terlihat dan terbuka begitu saja, tanpa
penutup apapun.

Waktu itu pikiran yang melintas,
beranekaragam……kaget, bingung, sedih, bertanya-tanya.

Saya tahu, banyak sekali berita yang
mengatakan bahwa pengemis, pengamen dsb, diorganisir secara rapi untuk
memperoleh uang .

Banyak orang tua yang mengeksploitasi
anaknya untuk mendapatkan uang tanpa bekerja.

Sehingga kita menjadi
bingung……dilemma….

Apakah kita harus member ketika ada
pengemis? Atau kah membiarkan saja, dengan dalih, tidak ingin membuat orang
menjadi pemalas?

Terus terang, saya tidak suka menonton
acara, atau membaca berita yang “menyedihkan” tentang kemiskinan dsb.

Mengapa? Bukan apa2…

Terlebih hanya karena merasa, saya
tidak mampu berbuat apa-apa untuk mengurangi angka kemiskinan di Negara ini.

Hopeless……

Begitu banyak org miskin…

Begitu banyak org yang menderita….

Apalah arti pemberian saya yang kecil?

Apa yang bisa saya lakukan?

Pemikiran seperti itu membuat saya
apatis.

Belum lagi ditambah dengan berita
bahwa, seringkali terjadi perampokan mobil2 di lampu merah.

Sehingga membuat kita enggan / ogah
membuka kaca mobil untuk memberikan uang pada pengemis.

Memberi atau tidak memberi… yang
seharusnya menjadi suatu pilihan mudah, menjadi terasa sulit….menjadi dilemma….

Namun malam itu, bayangan akan 2 anak
tersebut, terus mengikuti saya.

Terlepas dari, apakah anak-anak
tersebut dieksploitasi atau tidak……

Kenyataanya adalah, anak-anak tersebut
menderita.

Saya membayangkan anak saya, yang Puji
Tuhan, dapat hidup dengan layak.

Seringkali, sulit bagi kita untuk
memberi sekedar uang logam 500 rupiah bagi pengemis…meskipun berdalih tdk ingin
menjadikan org tsb malas.

Padahal……apakah karena kita menyayangi
uang 500 rupiah itu?

Kalau memang demikian, mengapa uang
receh seperti itu seringkali kita temukan di laci meja bertahun-tahun, di
kolong meja, di sudut2 tas dan dompet yang tidak pernah tersentuh?

Saya teringat ketika waktu kecil saya
sering menemani mama berbelanja ke pasar. Saya tidak menyukai saat-saat ketika
saya harus menunggu mama saya tawar menawar dengan sangat a lot, hanya utk
perbedaan harga 100 rupiah.

Bukan berarti saya menyepelekan uang
100 rupiah… bukan berarti saya menganggap uang 100 rupiah tidak ada artinya.

Kalau memang bagi kita uang 100 rupiah
sangat berharga karena memang tidak memiliki uang berlebih, memang tidak salah
bila menawar. Namun, bila proses tawar menawar itu dilakukan hanya untuk “kepuasan”………
alangkah menyedihkannya.

Apabila melihat kemiskinan,
ketidakadilan bagi rakyat kecil..siapa yang harus dipersalahkan?

Pemerintah? Masyarakat elite yang
menutup mata? Tuhan?

Satu hal yang saya pelajari malam itu……

Mengapa alasan bahwa hal “kecil” yang
saya lakukan tidak akan mampu mengurangi kemiskinan di Negara ini, menjadi
halangan bagi saya untuk memberi?

Mengapa alasan korupsi yg dilakukan
oknum tertentu membuat saya enggan membayar pajak kepada Negara sesuai dengan
yang sebenernya harus saya bayarkan?

Semua itu hanya akan membuat saya lelah
dan sedih, namun menjadi apatis.

Sehingga lebih baik, saya memberi
dengan kesadaran bahwa saya “memberi”.

Masalah nantinya ternyata, pemberian
saya itu menjadikan org pemalas, atau disalahgunakan oleh oknum
tertentu……biarlah menjadi urusan yang bersangkutan kepada Tuhan.

Saya tidak perlu lagi memikirkan,
apakah pemberian tersebut berarti atau tidak.

Apakah saya perlu memikirkan mengapa
pemerintah atau Bapak Presiden seakan-akan menutup mata?

Atau, pernah kah mereka berjalan
dijalan seperti yang saya lakukan malam itu, dan melihat kenyataan seperti itu?

Saya teringat akan 1 lagu dari Grup
Musik Pink, yang berjudul : Dear Mr President.

Dear Mr. President
Come take a walk with me
Let’s pretend we’re just two people and
You’re not better than me
I’d like to ask you some questions if we can speak honestly

What do you feel when you see all the homeless on the street
Who do you pray for at night before you go to sleep
What do you feel when you look in the mirror
Are you proud

How do you sleep while the rest of us cry
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye
How do you walk with your head held high
Can you even look me in the eye
And tell me why

Dear Mr. President
Were you a lonely boy
Are you a lonely boy
Are you a lonely boy
How can you say
No child is left behind
We’re not dumb and we’re not blind
They’re all sitting in your cells
While you pave the road to hell

What kind of father would take his own daughter’s rights away
And what kind of father might hate his own daughter if she were gay
I can only imagine what the first lady has to say
You’ve come a long way from whiskey and cocaine

How do you sleep while the rest of us cry
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye
How do you walk with your head held high
Can you even look me in the eye

Let me tell you ‘bout hard work
Minimum wage with a baby on the way
Let me tell you ‘bout hard work
Rebuilding your house after the bombs took them away
Let me tell you bout hard work
Building a bed out of a cardboard box
Let me tell you bout hard work
Hard work
Hard work
You don’t know nothing bout hard work
Hard work
Hard work
Oh

How do you sleep at night
How do you walk with your head held high
Dear Mr. President
You’d never take a walk with me
Would you?

Rasanya tidak perlu saya menghabiskan
waktu dengan berusaha agar Presiden mendengar & melihat.

Saya sebagai pribadi pun sebenernya
memiliki “kekuasaan”, sebagaimana adanya saya…kekuasaan atas diri saya.

Setiap kita, dalam posisi apapun,
sebagai majikan di rumah, sebagai atasan di kantor, sebagai pemilik perusahaan
atau apapun yang menempatkan diri kita sebagai orang yang “memiliki kuasa”,
atau “menentukan hajat hidup orang lain”…….. pernah kah kita mencoba utk
“berjalan” bersama orang-orang tsb ? Bersikap bahwa tidak ada perbedaan antara
kita dan org tsb, bahwa kita tidak lebih “punya” atau lebih baik dari org tsb
?  Bersikap tidak hanya simpati, namun juga empati ?

Memahami mengapa seseorang harus
“mengemis” daripada menyibukan diri dengan pertanyaan apakah “pemberian” kita
akan berakibat buruk bagi org tsb?

Sehingga lagu itu sebenarnya bukan
ditujukan bagi Bapak Presiden yang duduk di Istana Negara saja, tapi juga bagi
diri saya, dengan segala kecukupan dan kelebihan yang saya miliki.

Ada pepatah yang mengatakan : sebab
nila setitik rusak susu sebelanga.

Tapi saya gemar membalik pepatah itu
menjadi : susu setitik tidak mungkin memutihkan tinta sebelanga.

Tapi, lebih baik saya menjadi setitik
susu dari pada tidak menjadi apapun sama sekali.

Lebih baik saya menjadi setitik susu
sambil berharap, ada titik-titik susu lainnya yang selanjutnya akan berkumpul
hingga sanggup memutihkan tinta sebelanga itu…….

Justice maybe blind, but (when) it can see in the dark…… ????

Tuesday, November 13th, 2007

Hari ini, ada kejadian yang begitu menabrak pikiran saya…dan
mengobrak-abrik perasaan saya.

Pernahkan anda membayangkan diri anda mengalami kejadian
berikut,

Pagi hari anda berangkat kerja ke kantor….namun, sore hari
anda pulang tanpa pekerjaan.

Dipecat? Dirumahkan?

Apapun istilahnya.

Terbayangkah oleh anda, apa yang akan anda katakan kepada
keluarga yang menggantungkan isi perutnya pada anda?

Terbayangkah oleh anda, kemana anda akan pergi esok
pagi…untuk menghindari  pertanyaan
keluarga anda, bila anda tidak ingin keluarga anda tahu?

Terbayangkah oleh anda, apabila anak anda sedang sakit dan
membutuhkan uang anda untuk mengobati sakitnya?

Mungkin bagi orang yang tidak sanggup membayangkan dan tidak
kuat menanggungnya…yang akan terbayang oleh nya hanyalah kegelapan, yang tanpa
dia sadari, menuntunnya melangkah ke lantai tertinggi sebuah gedung dan
berharap agar terjun bebas akan mengakhiri segala kegelapan itu.

 

Ya…hari ini, seorang satpam yang saya kenal…di “rumahkan”…
dengan alasan kontraknya tidak diperpanjang, padahal dia sudah bekerja
bertahun-tahun.

Apa sebenernya yang terjadi?

Banyaknya kehilangan yang terjadi di tempatnya bekerja…mulai
dari handphone sampai laptop, membuatnya seakan harus bertanggung jawab,
meskipun bila dilihat kasusnya…tidak beralasan untuk menuduhnya, dan tidak ada
bukti-bukti.

Seperti rumor yang ada, ya…karena tidak ditemukan siapa
pelakunya, maka harus ada yang “bertanggungjawab” dan “dikorbankan”.

Saya tidak membela siapa pun.

Apakah sungguh dia tidak melakukannya? … only God knows.

Apakah perusahaan melakukan kesalahan dengan
memberhentikannya? …. Only God knows.

Apakah “pengorbanan” ini benar akan meniadakan kemungkinan
hal yang sama akan terulang kembali, karena timbulnya rasa takut dengan melihat
apa yang terjadi pada “korban”?… Only
God knows.

Namun…. Only God knows too, dan hanya Tuhan yang bisa melakukan perhitungan terhadap pelaku
sesungguhnya.

 

Justice maybe blind, but it can see in the dark….

Tapi kapan?

Silahkan anda tonton sendiri acara kupas tuntas, atau yang
sejenisnya.. saya tidak hapal nama acaranya. Berapa banyak kesalahan yang
dilakukan oleh hukum, dengan menghukum orang yang tidak bersalah?

Bahkan belasan tahun seseorang dipenjara, sampai akhirnya
ditemukan bahwa dia tidak bersalah.

Lantas, apa yang dilakukan oleh Keadilan untuk menebus belasan
tahun yang telah dia derita?

Bila HUKUM bersalah, lantas siapa yang akan mengHUKUMnya?

 

Siapapun kita, dapat melakukan kejahatan, baik disengaja
maupun tidak disengaja.

Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa kejahatan atau kesalahan
yang kita perbuat..ditanggung oleh orang lain? Di derita oleh orang lain?

Pencuri yang tidak tertangkap mungkin akan merasa dirinya
hebat.

Namun pernah pencuri itu berpikir bahwa, ada orang lain yang
HARUS DITANGKAP, demi SELESAI nya KASUS dan demi TIDAK ADANYA LAGI yang berani
berbuat hal yang sama???

Apa jadinya bila orang yang tidak semestinya ditangkap itu
merupakan tempat selusin anggota keluarga menggantungkan isi perut padanya???

 

Setiap kejadian buruk dalam hidup saya, saya mempercayai
bahwa hal itu terjadi hanya karena 3 hal :

1. Karena merupakan bagian dari rencana Tuhan

2. Karena kesalahan diri saya sendiri

3. Karena kesalahan orang lain

Seringkali kita mendengar orang berkata demikian apabila
kemalangan menimpa dirinya, “Yah..mungkin ini memang sudah kehendak Tuhan untuk
menguji saya”

Apakah benar selalu demikian?

Bayangkanlah, bila ada seseorang yang sudah patuh berjalan
dengan baik dan benar di sisi pejalan kaki yang jauh dari jalan raya. Namun
tiba-tiba orang tersebut cacat parah karena ditabrak oleh seorang pengemudi
yang mabuk?

Apakah kehendak Tuhan, orang tersebut cacat? …… Tuhan tidak
pernah merencanakan sesuatu yang buruk bagi umat Nya.

Apakah ini kesalahan si pejalan kaki itu? …. Tidak, dia sudah berjalan dengan benar dan
memenuhi peraturan.

Apakah karena kesalahan orang lain? …. Ya tentu saja, karena
dia sudah mabuk.

 

Akhirnya semua kejadian hari ini, saya tutup malam ini dengan
sebuah perenungan bagi diri saya sendiri.

Pernahkah saya melakukan suatu kesalahan yang mengakibatkan
orang lain menanggung akibatnya? Kemungkinan besar pernah… dan saya memohon
ampun pada Tuhan atas itu.

Akhirnya saya sungguh-sungguh mengerti dan memahami sebuah
quote yang sangat-sangat saya sukai akhir-akhir ini :

I get peace, knowing that
what I have done in the day will allow me to sleep well at night. I get peace,
knowing that what I am doing now will not give me grief or regret in my old age
- venerable manko.