Never Far Away…..

December 23rd, 2007 by d3t4

Tuhan memang tidak pernah berjanji bahwa langit akan selalu biru, bunga-bunga bertebaran disepanjang jalan kehidupan.
Tapi Tuhan menjanjikan kekuatan kepada kita utk melalui saat-saat dimana langit hujan dan kelabu, melewati jalan-jalan sulit dan berbatu.


Namun, mengapa seringkali ketika kita mulai mendapat kekuatan untuk melewati badai dan langit kelam… jalan terjal dan berbatu tajam…
saat kita mulai dapat melihat bahwa dibalik
Duty1awan kelam, masih ada langit biru…
dapat melihat bahwa diantara bebatuan, masih ada sedikit bunga liar tumbuh…
kita kembali mengalami badai yg lebih hebat, bebatuan yang lebih tajam???



Bertahan…..

Mengapa seringkali sulit untuk bertahan?

Adakah Tuhan memampukan kita melewati semuanya?

Kita boleh jadi sadar bahwa Tuhan itu ada.

Tetapi, seringkali yang terjadi adalah…kita tidak ingat bahwa Tuhan itu selalu ada.


 

 

Duty2

Saya seringkali mengalami hal ini.
Rasa terpuruk, menggali lubang sendiri dan
memerosokkan diri semakin dalam.
Membelenggu diri dengan rantai besi.

 

Di awal bulan Desember ini,

Ketika hujan senantiasa membahasi bumi,

Ketika mata menatap tetes-tetes hujan di balik jendela kaca,

Ketika kepala menunduk menatap jalanan yang basah,

Saya teringat pada suatu klip dari sebuah website yang saya temukan 4 tahun yang lalu.

http://www.donghaeng.net/english/flash/flash12.htm

(please turn on your speaker)

Duty3
Klip yang membuat saya tanpa terasa merasakan sesak di dada dan hangat di mata.
Membuat saya kembali menyadari bahwa HIDUP ini adalah anugerah dan tugas Tuhan bagi saya.

 


Kesetiaan…..

Masih mampukah bertahan dengan setia, untuk menghargai anugerah dan menjalani tugas?

Ketika angin kencang menerpa, dingin meremukkan seluruh persendian,

Ketika terik matahari membakar, panas melepuhkan seluruh kulit,

Ketika tanpa terasa, airmata tidak lagi mampu mengalir,

Ketika diri tak lagi mampu berdiri di atas kedua kaki,

Ketika merangkak pun terasa sulit,

Saat itu saya sadar untuk segera mengangkat kedua tangan saya ke atas, dan membiarkan Tuhan menurunkan tangan-NYa……..

# Nobody knows when this journey ends,
But everyone knows that there is an end…


(thanks to www.donghaeng.net,  really a great work…GBU

Sampah berkedok Barang Rongsokan ?!

December 8th, 2007 by d3t4

Garbage
Saya termasuk orang yang senang
menyimpan barang-barang lama, dengan alasan “dibuang sayang”, atau “mungkin
suatu saat saya akan memerlukannya”, atau “barang ini punya kenangan khusus
bagi saya”.

Sehingga jujur, rumah saya penuh
dengan barang-barang lama, yang mgkn setengah rusak, bahkan rusak atau tidak
terpakai lagi bertahun-tahun.

Terkadang, apabila ada barang yang
rusak, saya tidak akan membuangnya, akan tetap saya simpan, dengan niat, akan
saya perbaiki….namun nyatanya, tidak pernah saya perbaiki :-) Beautiful_garbage

Terkadang, bila membereskan
rumah, saya mengumpulkan barang-barang yang tidak diperlukan, dengan dalih,
nanti akan saya sortir kembali, apakah benar barang-barang tersebut sudah tidak
dapat digunakan sama sekali….namun nyatanya, saya tidak punya cukup waktu untuk
membuka kembali kotak / kantong tempat saya menampung sementara barang-barang
tersebut.

Lama kelamaan, saya merasakan
rumah saya penuh sesak.
Lama kelamaan, saya mulai kesulitan mencari tempat untuk menyimpan
barang-barang lain yang masih berguna.

Lama kelamaan, saya merasa
barang-barang tua itu menimbulkan masalah.

Tumpukan barang rongsokan mulai
mengundang makhluk kecil berwarna hitam berjulukan “mickey mouse”…. :-)

Tentu nya ini bukan makhluk
menyenangkan dari Disney World….ini makhluk menyebalkan yang dapat membawa
penyakit.

Rasanya, sudah waktunya bagi saya
untuk sungguh-sungguh membereskan masalah “rongsokan-sampah” ini di rumah saya.

 

Hal yang serupa, terjadi di “rumah
hati” saya.

Ada banyak hal, banyak kenangan
dan banyak orang berseliweran dalam hidup saya…menari-nari dipikiran saya, dan
nongkrong di rumah hati saya.

Sebagian masih menjadi present
tense bagi saya,

Sebagian present continuous tense,

Namun sebagian lagi sudah menjadi
past tense bagi saya.

 

Setelah menyadarinya, saya
menemukan analogi rumah hati saya dan rumah saya..

Analogi hal-hal yang berseliweran
dalam hidup saya dan barang-barang rongsokan lama saya.

Tanpa saya sadari, kenangan lama yang
buruk, yang mgkn saya harap dapat berubah menjadi baik…masih bertenggeran
bertahun-tahun dalam rumah hati saya.

Tanpa saya sadari, orang-orang
yang seharusnya menjadi “tokoh sejarah” bagi saya, ternyata masih saya anggap
dan perlakukan sebagai “tokoh masa kini”.

Tanpa saya sadari, kenangan lama
atau orang-orang yang menjadi “rongsokan” dalam hidup saya, masih tetap saya
simpan, dengan harapan bisa saya perbaiki suatu saat….tanpa saya pernah sadari
bahwa “rongsokan” tersebut sebenarnya hanyalah “sampah” yang tidak berarti…rongsokan
itu sudah tidak dapat diperbaiki sama sekali.

Beberapa “rongsokan” itu bahkan
sudah menjadi “sampah” yang menimbulkan masalah bagi saya…

menjadi sumber “penyakit” bagi
saya… membuat “luka” bagi saya.

 

Seperti niat saya membersihkan
rumah saya dan menyortir barang-barang saya dari barang-barang tidak berguna,
demikian pula yang saya lakukan dengan “rumah hati” saya.

Tiba saatnya bagi saya membuang “sampah”
yang semula saya kira barang rongsokan yang masih dapat diperbaiki.

Karena ternyata “sampah” ini
sudah menjadi masalah bagi saya…sudah membuat saya sakit.

Menyedihkan ketika harus membuang
barang tua yang telah sekian lama berdiam di dalam rumah, meskipun terkadang,
kehadirannya pun jarang terasa…namun saya seakan tahu, bahwa barang itu ada
disana, pada tempatnya dan bersama saya bertahun-tahun.

Namun, lebih menyedihkan lagi,
mengetahui masalah, sakit dan luka yang ditimbulkan oleh barang tua tersebut.

 

Sehingga, dengan berusaha
menikmati rasa sakit dan berteman dengan kesedihan….minggu lalu saya mengumpulkan
barang rongsokan dari rumah hati saya dan melemparkan nya ke dalam api yang
menyala, sebagian lagi saya lemparkan ke tong sampah….dengan pemikiran, biarkan
pemulung yang memungutnya. Dan apabila pemulung tersebut membawanya ke tempat
daur ulang, harapan saya, barang tersebut dapat di daur ulang…itu akan jauh
lebih baik, karena saya tidak mampu untuk mendaur-ulangnya ,

Mudah-mudahan barang rongsokan
itu setelah di daur ulang, dapat kembali digunakan, atau berubah menjadi
sesuatu yang dapat digunakan untuk keperluan lain…..yang mana pun tidak
masalah, semuanya jauh lebih baik daripada barang tersebut terus bercokol di
rumah hati saya dan lama kelamaan menyakiti saya.

 

Ternyata, apa yang saya lakukan
ini, melegakan….

Rumah hati saya terasa lebih
longgar….lebih segar dan tidak terlalu sesak lagi.

Meskipun saya membutuhkan banyak
waktu untuk membereskan semuanya….karena sudah terlalu banyak saya menimbun
barang-barang rongsokan dalam rumah hati saya.

Ya….saya harus melanjutkan
menyortir barang-barang tersebut,

Saya akan berusaha memperbaiki
barang yang masih dapat diperbaiki, namun disamping itu saya akan belajar untuk
membuang barang yang tidak dapat diperbaiki.

Mungkin apabila barang rongsokan
yang saya buang itu dapat berbicara,

Mungkin ia akan berkata saya
kejam, tidak menghargai kenangan yang sudah diberikannya kepada saya…

Mungkin ia akan memohon kepada
saya untuk dibiarkan tetap menghuni salah satu sudut rumah hati saya….dan
berjanji tidak akan mengganggu saya, atau menimbulkan masalah bagi saya,
asalkan ia dibiarkan tetap dalam rumah hati saya.

Tidak….meskipun barang rongsokan
itu dapat berbicara, bahkan berteriak menjerit sekalipun,

Saya tidak akan peduli…..dan
dengan tegas akan saya katakan kepadanya….

“Sadarlah, engkau tidak lebih
dari sampah…..”

Sampah yang saya biarkan menjadi
penyakit bagi saya.

Saya sudah cukup hidup dan
berteman dengan sampah yang berkedok barang rongsokan atau barang kenangan.

…………………………………………………. Sudah
saatnya saya membersihkan dan menata rumah hati saya

#
Mohon maaf bagi sampah-sampah yang mengira dirinya adalah barang rongsokan yang
layak disimpan. Seharusnya sampah-sampah itu sadar dan dengan rela digiring ke
tempat daur ulang, dimana mgkn mereka akan dapat diperbaiki atau dijadikan
sesuatu yang membuatnya kembali berguna….karena saya sudah tidak mampu lagi hidup berteman dengan sampah.

dear “Mr.President”

November 28th, 2007 by d3t4

Mother_teresa

Apa yang manusia cari di dunia ini?

Apa yang anda cari di dunia ini?

Apa yang saya cari di dunia ini?

…dalam hidup,

…dalam apa yang dilakukan?

Sebagian orang akan menjawab dengan
mudah.

Mencari uang, mencari kesenangan,
mencari kehormatan, karir……dsb.

Pernahkah anda mendengar seseorang
berkata,

“saya hanya mencari sedikit makanan
hari ini, karena tiga hari yang lalu adalah hari terakhir saya makan.”

Ironis….

Mungkin kita sering mendengar jawaban
seperti tadi, terutama ketika kita berada diperempatan, di lampu merah, ketika
seorang pengemis, pengamen, atau anak jalanan menghampiri kendaraan kita dan
meminta uang receh.

Lantas, apa yang biasanya kita lakukan?

Simple..angkat tangan sedikit ke arah
jendela (tentunya tanpa perlu membuka kaca mobil..), goyangkan/lambaikan tangan
sedikit, dan efeknya…orang tadi akan pergi, pindah ke kendaraan lainnya.

Bagi sebagian besar kita, peristiwa
tersebut mungkin merupakan cerita lama yang membosankan.

Sedikit ingin berbagi cerita,

Saya sebagai seorang pekerja, sudah
pernah merasakan berbagai macam kendaraan yang bisa menghantar saya ke kantor.

Saya pernah naik mobil pribadi, pernah
naik bis kota, pernah naik transjakarta, pernah mengendarai motor.

Suatu kali, saya pulang kantor dan
memutuskan untuk naik bis biasa.

Setelah berganti bis 2x dari sudirman
ke grogol, saya berniat naik transjakarta untuk sampai ke cengkareng dimana
saya tinggal.

Saya turun di depan Mall Citraland, dan
saya jalan kaki kea rah halte busway (Jelambar). Di depan mall tersebut, ada
pagar pembatas 2 arah yang disediakan khusus bagi pejalan kaki yang menuju mall
tersebut.

Ketika sedang menikmati perjalanan kaki
saya, tiba-tiba mata saya tertuju pad 2 sosok anak kecil (laki-laki) yang tidur,
persis di jalan yang berpagar tsb. Waktu itu kira-kira pukul 9 malam. Di jalan
sesempit itu, mereka berdua tidur, yang satu berusia sekitar 8 th, dan satu
lagi(mgkn adiknya) kira-kira berumur 4 atau 5 tahun.

Namun apa yang membuat saya kaget dan
merasa miris adalah, anak yang lebih kecil, tidur tanpa memakai celana sama
sekali…sehingga (maaf) alat vitalnya terlihat dan terbuka begitu saja, tanpa
penutup apapun.

Waktu itu pikiran yang melintas,
beranekaragam……kaget, bingung, sedih, bertanya-tanya.

Saya tahu, banyak sekali berita yang
mengatakan bahwa pengemis, pengamen dsb, diorganisir secara rapi untuk
memperoleh uang .

Banyak orang tua yang mengeksploitasi
anaknya untuk mendapatkan uang tanpa bekerja.

Sehingga kita menjadi
bingung……dilemma….

Apakah kita harus member ketika ada
pengemis? Atau kah membiarkan saja, dengan dalih, tidak ingin membuat orang
menjadi pemalas?

Terus terang, saya tidak suka menonton
acara, atau membaca berita yang “menyedihkan” tentang kemiskinan dsb.

Mengapa? Bukan apa2…

Terlebih hanya karena merasa, saya
tidak mampu berbuat apa-apa untuk mengurangi angka kemiskinan di Negara ini.

Hopeless……

Begitu banyak org miskin…

Begitu banyak org yang menderita….

Apalah arti pemberian saya yang kecil?

Apa yang bisa saya lakukan?

Pemikiran seperti itu membuat saya
apatis.

Belum lagi ditambah dengan berita
bahwa, seringkali terjadi perampokan mobil2 di lampu merah.

Sehingga membuat kita enggan / ogah
membuka kaca mobil untuk memberikan uang pada pengemis.

Memberi atau tidak memberi… yang
seharusnya menjadi suatu pilihan mudah, menjadi terasa sulit….menjadi dilemma….

Namun malam itu, bayangan akan 2 anak
tersebut, terus mengikuti saya.

Terlepas dari, apakah anak-anak
tersebut dieksploitasi atau tidak……

Kenyataanya adalah, anak-anak tersebut
menderita.

Saya membayangkan anak saya, yang Puji
Tuhan, dapat hidup dengan layak.

Seringkali, sulit bagi kita untuk
memberi sekedar uang logam 500 rupiah bagi pengemis…meskipun berdalih tdk ingin
menjadikan org tsb malas.

Padahal……apakah karena kita menyayangi
uang 500 rupiah itu?

Kalau memang demikian, mengapa uang
receh seperti itu seringkali kita temukan di laci meja bertahun-tahun, di
kolong meja, di sudut2 tas dan dompet yang tidak pernah tersentuh?

Saya teringat ketika waktu kecil saya
sering menemani mama berbelanja ke pasar. Saya tidak menyukai saat-saat ketika
saya harus menunggu mama saya tawar menawar dengan sangat a lot, hanya utk
perbedaan harga 100 rupiah.

Bukan berarti saya menyepelekan uang
100 rupiah… bukan berarti saya menganggap uang 100 rupiah tidak ada artinya.

Kalau memang bagi kita uang 100 rupiah
sangat berharga karena memang tidak memiliki uang berlebih, memang tidak salah
bila menawar. Namun, bila proses tawar menawar itu dilakukan hanya untuk “kepuasan”………
alangkah menyedihkannya.

Apabila melihat kemiskinan,
ketidakadilan bagi rakyat kecil..siapa yang harus dipersalahkan?

Pemerintah? Masyarakat elite yang
menutup mata? Tuhan?

Satu hal yang saya pelajari malam itu……

Mengapa alasan bahwa hal “kecil” yang
saya lakukan tidak akan mampu mengurangi kemiskinan di Negara ini, menjadi
halangan bagi saya untuk memberi?

Mengapa alasan korupsi yg dilakukan
oknum tertentu membuat saya enggan membayar pajak kepada Negara sesuai dengan
yang sebenernya harus saya bayarkan?

Semua itu hanya akan membuat saya lelah
dan sedih, namun menjadi apatis.

Sehingga lebih baik, saya memberi
dengan kesadaran bahwa saya “memberi”.

Masalah nantinya ternyata, pemberian
saya itu menjadikan org pemalas, atau disalahgunakan oleh oknum
tertentu……biarlah menjadi urusan yang bersangkutan kepada Tuhan.

Saya tidak perlu lagi memikirkan,
apakah pemberian tersebut berarti atau tidak.

Apakah saya perlu memikirkan mengapa
pemerintah atau Bapak Presiden seakan-akan menutup mata?

Atau, pernah kah mereka berjalan
dijalan seperti yang saya lakukan malam itu, dan melihat kenyataan seperti itu?

Saya teringat akan 1 lagu dari Grup
Musik Pink, yang berjudul : Dear Mr President.

Dear Mr. President
Come take a walk with me
Let’s pretend we’re just two people and
You’re not better than me
I’d like to ask you some questions if we can speak honestly

What do you feel when you see all the homeless on the street
Who do you pray for at night before you go to sleep
What do you feel when you look in the mirror
Are you proud

How do you sleep while the rest of us cry
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye
How do you walk with your head held high
Can you even look me in the eye
And tell me why

Dear Mr. President
Were you a lonely boy
Are you a lonely boy
Are you a lonely boy
How can you say
No child is left behind
We’re not dumb and we’re not blind
They’re all sitting in your cells
While you pave the road to hell

What kind of father would take his own daughter’s rights away
And what kind of father might hate his own daughter if she were gay
I can only imagine what the first lady has to say
You’ve come a long way from whiskey and cocaine

How do you sleep while the rest of us cry
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye
How do you walk with your head held high
Can you even look me in the eye

Let me tell you ‘bout hard work
Minimum wage with a baby on the way
Let me tell you ‘bout hard work
Rebuilding your house after the bombs took them away
Let me tell you bout hard work
Building a bed out of a cardboard box
Let me tell you bout hard work
Hard work
Hard work
You don’t know nothing bout hard work
Hard work
Hard work
Oh

How do you sleep at night
How do you walk with your head held high
Dear Mr. President
You’d never take a walk with me
Would you?

Rasanya tidak perlu saya menghabiskan
waktu dengan berusaha agar Presiden mendengar & melihat.

Saya sebagai pribadi pun sebenernya
memiliki “kekuasaan”, sebagaimana adanya saya…kekuasaan atas diri saya.

Setiap kita, dalam posisi apapun,
sebagai majikan di rumah, sebagai atasan di kantor, sebagai pemilik perusahaan
atau apapun yang menempatkan diri kita sebagai orang yang “memiliki kuasa”,
atau “menentukan hajat hidup orang lain”…….. pernah kah kita mencoba utk
“berjalan” bersama orang-orang tsb ? Bersikap bahwa tidak ada perbedaan antara
kita dan org tsb, bahwa kita tidak lebih “punya” atau lebih baik dari org tsb
?  Bersikap tidak hanya simpati, namun juga empati ?

Memahami mengapa seseorang harus
“mengemis” daripada menyibukan diri dengan pertanyaan apakah “pemberian” kita
akan berakibat buruk bagi org tsb?

Sehingga lagu itu sebenarnya bukan
ditujukan bagi Bapak Presiden yang duduk di Istana Negara saja, tapi juga bagi
diri saya, dengan segala kecukupan dan kelebihan yang saya miliki.

Ada pepatah yang mengatakan : sebab
nila setitik rusak susu sebelanga.

Tapi saya gemar membalik pepatah itu
menjadi : susu setitik tidak mungkin memutihkan tinta sebelanga.

Tapi, lebih baik saya menjadi setitik
susu dari pada tidak menjadi apapun sama sekali.

Lebih baik saya menjadi setitik susu
sambil berharap, ada titik-titik susu lainnya yang selanjutnya akan berkumpul
hingga sanggup memutihkan tinta sebelanga itu…….

Justice maybe blind, but (when) it can see in the dark…… ????

November 13th, 2007 by d3t4

Hari ini, ada kejadian yang begitu menabrak pikiran saya…dan
mengobrak-abrik perasaan saya.

Pernahkan anda membayangkan diri anda mengalami kejadian
berikut,

Pagi hari anda berangkat kerja ke kantor….namun, sore hari
anda pulang tanpa pekerjaan.

Dipecat? Dirumahkan?

Apapun istilahnya.

Terbayangkah oleh anda, apa yang akan anda katakan kepada
keluarga yang menggantungkan isi perutnya pada anda?

Terbayangkah oleh anda, kemana anda akan pergi esok
pagi…untuk menghindari  pertanyaan
keluarga anda, bila anda tidak ingin keluarga anda tahu?

Terbayangkah oleh anda, apabila anak anda sedang sakit dan
membutuhkan uang anda untuk mengobati sakitnya?

Mungkin bagi orang yang tidak sanggup membayangkan dan tidak
kuat menanggungnya…yang akan terbayang oleh nya hanyalah kegelapan, yang tanpa
dia sadari, menuntunnya melangkah ke lantai tertinggi sebuah gedung dan
berharap agar terjun bebas akan mengakhiri segala kegelapan itu.

 

Ya…hari ini, seorang satpam yang saya kenal…di “rumahkan”…
dengan alasan kontraknya tidak diperpanjang, padahal dia sudah bekerja
bertahun-tahun.

Apa sebenernya yang terjadi?

Banyaknya kehilangan yang terjadi di tempatnya bekerja…mulai
dari handphone sampai laptop, membuatnya seakan harus bertanggung jawab,
meskipun bila dilihat kasusnya…tidak beralasan untuk menuduhnya, dan tidak ada
bukti-bukti.

Seperti rumor yang ada, ya…karena tidak ditemukan siapa
pelakunya, maka harus ada yang “bertanggungjawab” dan “dikorbankan”.

Saya tidak membela siapa pun.

Apakah sungguh dia tidak melakukannya? … only God knows.

Apakah perusahaan melakukan kesalahan dengan
memberhentikannya? …. Only God knows.

Apakah “pengorbanan” ini benar akan meniadakan kemungkinan
hal yang sama akan terulang kembali, karena timbulnya rasa takut dengan melihat
apa yang terjadi pada “korban”?… Only
God knows.

Namun…. Only God knows too, dan hanya Tuhan yang bisa melakukan perhitungan terhadap pelaku
sesungguhnya.

 

Justice maybe blind, but it can see in the dark….

Tapi kapan?

Silahkan anda tonton sendiri acara kupas tuntas, atau yang
sejenisnya.. saya tidak hapal nama acaranya. Berapa banyak kesalahan yang
dilakukan oleh hukum, dengan menghukum orang yang tidak bersalah?

Bahkan belasan tahun seseorang dipenjara, sampai akhirnya
ditemukan bahwa dia tidak bersalah.

Lantas, apa yang dilakukan oleh Keadilan untuk menebus belasan
tahun yang telah dia derita?

Bila HUKUM bersalah, lantas siapa yang akan mengHUKUMnya?

 

Siapapun kita, dapat melakukan kejahatan, baik disengaja
maupun tidak disengaja.

Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa kejahatan atau kesalahan
yang kita perbuat..ditanggung oleh orang lain? Di derita oleh orang lain?

Pencuri yang tidak tertangkap mungkin akan merasa dirinya
hebat.

Namun pernah pencuri itu berpikir bahwa, ada orang lain yang
HARUS DITANGKAP, demi SELESAI nya KASUS dan demi TIDAK ADANYA LAGI yang berani
berbuat hal yang sama???

Apa jadinya bila orang yang tidak semestinya ditangkap itu
merupakan tempat selusin anggota keluarga menggantungkan isi perut padanya???

 

Setiap kejadian buruk dalam hidup saya, saya mempercayai
bahwa hal itu terjadi hanya karena 3 hal :

1. Karena merupakan bagian dari rencana Tuhan

2. Karena kesalahan diri saya sendiri

3. Karena kesalahan orang lain

Seringkali kita mendengar orang berkata demikian apabila
kemalangan menimpa dirinya, “Yah..mungkin ini memang sudah kehendak Tuhan untuk
menguji saya”

Apakah benar selalu demikian?

Bayangkanlah, bila ada seseorang yang sudah patuh berjalan
dengan baik dan benar di sisi pejalan kaki yang jauh dari jalan raya. Namun
tiba-tiba orang tersebut cacat parah karena ditabrak oleh seorang pengemudi
yang mabuk?

Apakah kehendak Tuhan, orang tersebut cacat? …… Tuhan tidak
pernah merencanakan sesuatu yang buruk bagi umat Nya.

Apakah ini kesalahan si pejalan kaki itu? …. Tidak, dia sudah berjalan dengan benar dan
memenuhi peraturan.

Apakah karena kesalahan orang lain? …. Ya tentu saja, karena
dia sudah mabuk.

 

Akhirnya semua kejadian hari ini, saya tutup malam ini dengan
sebuah perenungan bagi diri saya sendiri.

Pernahkah saya melakukan suatu kesalahan yang mengakibatkan
orang lain menanggung akibatnya? Kemungkinan besar pernah… dan saya memohon
ampun pada Tuhan atas itu.

Akhirnya saya sungguh-sungguh mengerti dan memahami sebuah
quote yang sangat-sangat saya sukai akhir-akhir ini :

I get peace, knowing that
what I have done in the day will allow me to sleep well at night. I get peace,
knowing that what I am doing now will not give me grief or regret in my old age
- venerable manko.

Sunday in Love….

October 7th, 2007 by d3t4

Rasanya sudah
lama sekali sejak saya meninggalkan kebiasaan mendengarkan stasiun radio (bukan
stasiun kereta.. ) Ramako..105,8 FM.

 

Dulu saat
saya masih tinggal di kos an.. Jelang malam mulai pukul 10, tangan otomatis
menyetel st.radio tersebut, yang selanjutnya akan dengan setia menghantarkan
saya ke penghujung malam..menikmati istirahat malam..menutup hari.

 

Bila tiba
hari minggu.. Maka saya mengawali pagi dengan kembali memutar 105.8 FM. Satu
acara favorit saya,dimana stasiun radio tersebut sepanjang hari minggu itu akan
menyiarkan acara Sunday in Love.. Memutar lagu-lagu bertemakan cinta..baik yg
direquest oleh pendengar,maupun yang diputar oleh penyiar. Full day, with no
jingle promotion, only songs for love… :-)

 

Kalau sudah
begitu, rasanya sepanjang hari terasa penuh cinta..gelembung-gelembung hati
berwarna jambon akan serasa bertebaran..aroma udara pun segar wangi..aroma
cinta, meskipun saat itu berada dalam kamar 3×4 m berdinding setengah
tembok,setengah tripleks, disertai putaran baling-baling kipas angin (bukan
baling-baling bambu ya…)

 

Sunday in
love.. How sweet it sounds..

What about
Monday..? .. I hate Monday?

What about
Tuesday..? .. It’s unlucky day, don’t ever start a new step on Tuesday?

What about Wednesday..? ..stuck on middle of the week. Wednesday
= WhENthESDAYend ?

Friday…
Thanks God it’s Friday…it’s a FRIeeDAY…

Saturday…means
party til’ u drop…or "Grey Saturday" for u?

…but
when Sunday comes..it is stil a SUNnyDAY for u?

 

Terkadang
tiap hari berlalu begitu saja,

Berlalu
sbg hari2 yg sibuk…bagi yg sibuk,

Berlalu
sbg hari2 yg keras dan sulit bagi yg menjalani hidup yang keras,

Berlalu
sbg hari2 yg menyenangkan bagi yg menjalani hidup penuh kesenangan,

Berlalu
sbg hari2 yg menyedihkan bagi yg patah hati,

Berlalu
sbg hari2 yg penuh penantian bagi yg sedang berharap,

…atau
berlalu tanpa terasa apa2 bagi yg menjalani hidup hanya utk menjalani hidup?

 

Mana
kah yang sedang teman anda jalani?

Mana
kah yang sedang anggota keluarga anda jalani?

Mana kah yang sedang anda jalani?

 

Tengok lah teman di kanan kiri, depan belakang
anda…

Tengok lah ke dalam diri anda…

Hari seperti apa yang anda, teman anda,
keluarga anda hadapi hari ini?

 

Adakah hari-hari terasa seperti Sunday in
Love..in SUNnyDAY… :-)

 

samudera, lautan, mentari….

October 1st, 2007 by d3t4

20071118154121

Apakah arti
memiliki hati seluas samudera, sedalam lautan?


Apakah arti
menjadi seperti mentari, selalu menepati janji..terbit di timur, tenggelam
dibarat?

Apakah
arti berhati besar?

 

Tak pernahkah
samudera marah dan mengkaramkan kapal?

Tak pernahkah
lautan lelah dan melemparkan ombaknya?

Mentari
memang selalu ada disana, tapi tetap,suatu saat mentari tak mampu menyinari krn
mendung atau gerhana menutupinya..

Lantas, apa
artinya menjadi berjiwa besar?

Menerima
segala sesuatu apa adanya..tanpa harus bertanya?

Berkorban
segala sesuatu tanpa mengeluh?

Memaafkan segala
sesuatu, tanpa pengecualian?

 

Jika
demikian, maka…

hati haruslah
lebih luas dari samudera..

hati haruslah
lebih dalam dari lautan..

hati haruslah
lebih setia dari mentari..sehingga ia mampu menghalau mendung dan gerhana yang
mencegahnya utk bersinar….

 

Dengan
demikian hati akan mampu menanggung segalanya.