
Apa yang manusia cari di dunia ini?
Apa yang anda cari di dunia ini?
Apa yang saya cari di dunia ini?
…dalam hidup,
…dalam apa yang dilakukan?
Sebagian orang akan menjawab dengan
mudah.
Mencari uang, mencari kesenangan,
mencari kehormatan, karir……dsb.
Pernahkah anda mendengar seseorang
berkata,
“saya hanya mencari sedikit makanan
hari ini, karena tiga hari yang lalu adalah hari terakhir saya makan.”
Ironis….
Mungkin kita sering mendengar jawaban
seperti tadi, terutama ketika kita berada diperempatan, di lampu merah, ketika
seorang pengemis, pengamen, atau anak jalanan menghampiri kendaraan kita dan
meminta uang receh.
Lantas, apa yang biasanya kita lakukan?
Simple..angkat tangan sedikit ke arah
jendela (tentunya tanpa perlu membuka kaca mobil..), goyangkan/lambaikan tangan
sedikit, dan efeknya…orang tadi akan pergi, pindah ke kendaraan lainnya.
Bagi sebagian besar kita, peristiwa
tersebut mungkin merupakan cerita lama yang membosankan.
Sedikit ingin berbagi cerita,
Saya sebagai seorang pekerja, sudah
pernah merasakan berbagai macam kendaraan yang bisa menghantar saya ke kantor.
Saya pernah naik mobil pribadi, pernah
naik bis kota, pernah naik transjakarta, pernah mengendarai motor.
Suatu kali, saya pulang kantor dan
memutuskan untuk naik bis biasa.
Setelah berganti bis 2x dari sudirman
ke grogol, saya berniat naik transjakarta untuk sampai ke cengkareng dimana
saya tinggal.
Saya turun di depan Mall Citraland, dan
saya jalan kaki kea rah halte busway (Jelambar). Di depan mall tersebut, ada
pagar pembatas 2 arah yang disediakan khusus bagi pejalan kaki yang menuju mall
tersebut.
Ketika sedang menikmati perjalanan kaki
saya, tiba-tiba mata saya tertuju pad 2 sosok anak kecil (laki-laki) yang tidur,
persis di jalan yang berpagar tsb. Waktu itu kira-kira pukul 9 malam. Di jalan
sesempit itu, mereka berdua tidur, yang satu berusia sekitar 8 th, dan satu
lagi(mgkn adiknya) kira-kira berumur 4 atau 5 tahun.
Namun apa yang membuat saya kaget dan
merasa miris adalah, anak yang lebih kecil, tidur tanpa memakai celana sama
sekali…sehingga (maaf) alat vitalnya terlihat dan terbuka begitu saja, tanpa
penutup apapun.
Waktu itu pikiran yang melintas,
beranekaragam……kaget, bingung, sedih, bertanya-tanya.
Saya tahu, banyak sekali berita yang
mengatakan bahwa pengemis, pengamen dsb, diorganisir secara rapi untuk
memperoleh uang .
Banyak orang tua yang mengeksploitasi
anaknya untuk mendapatkan uang tanpa bekerja.
Sehingga kita menjadi
bingung……dilemma….
Apakah kita harus member ketika ada
pengemis? Atau kah membiarkan saja, dengan dalih, tidak ingin membuat orang
menjadi pemalas?
Terus terang, saya tidak suka menonton
acara, atau membaca berita yang “menyedihkan” tentang kemiskinan dsb.
Mengapa? Bukan apa2…
Terlebih hanya karena merasa, saya
tidak mampu berbuat apa-apa untuk mengurangi angka kemiskinan di Negara ini.
Hopeless……
Begitu banyak org miskin…
Begitu banyak org yang menderita….
Apalah arti pemberian saya yang kecil?
Apa yang bisa saya lakukan?
Pemikiran seperti itu membuat saya
apatis.
Belum lagi ditambah dengan berita
bahwa, seringkali terjadi perampokan mobil2 di lampu merah.
Sehingga membuat kita enggan / ogah
membuka kaca mobil untuk memberikan uang pada pengemis.
Memberi atau tidak memberi… yang
seharusnya menjadi suatu pilihan mudah, menjadi terasa sulit….menjadi dilemma….
Namun malam itu, bayangan akan 2 anak
tersebut, terus mengikuti saya.
Terlepas dari, apakah anak-anak
tersebut dieksploitasi atau tidak……
Kenyataanya adalah, anak-anak tersebut
menderita.
Saya membayangkan anak saya, yang Puji
Tuhan, dapat hidup dengan layak.
Seringkali, sulit bagi kita untuk
memberi sekedar uang logam 500 rupiah bagi pengemis…meskipun berdalih tdk ingin
menjadikan org tsb malas.
Padahal……apakah karena kita menyayangi
uang 500 rupiah itu?
Kalau memang demikian, mengapa uang
receh seperti itu seringkali kita temukan di laci meja bertahun-tahun, di
kolong meja, di sudut2 tas dan dompet yang tidak pernah tersentuh?
Saya teringat ketika waktu kecil saya
sering menemani mama berbelanja ke pasar. Saya tidak menyukai saat-saat ketika
saya harus menunggu mama saya tawar menawar dengan sangat a lot, hanya utk
perbedaan harga 100 rupiah.
Bukan berarti saya menyepelekan uang
100 rupiah… bukan berarti saya menganggap uang 100 rupiah tidak ada artinya.
Kalau memang bagi kita uang 100 rupiah
sangat berharga karena memang tidak memiliki uang berlebih, memang tidak salah
bila menawar. Namun, bila proses tawar menawar itu dilakukan hanya untuk “kepuasan”………
alangkah menyedihkannya.
Apabila melihat kemiskinan,
ketidakadilan bagi rakyat kecil..siapa yang harus dipersalahkan?
Pemerintah? Masyarakat elite yang
menutup mata? Tuhan?
Satu hal yang saya pelajari malam itu……
Mengapa alasan bahwa hal “kecil” yang
saya lakukan tidak akan mampu mengurangi kemiskinan di Negara ini, menjadi
halangan bagi saya untuk memberi?
Mengapa alasan korupsi yg dilakukan
oknum tertentu membuat saya enggan membayar pajak kepada Negara sesuai dengan
yang sebenernya harus saya bayarkan?
Semua itu hanya akan membuat saya lelah
dan sedih, namun menjadi apatis.
Sehingga lebih baik, saya memberi
dengan kesadaran bahwa saya “memberi”.
Masalah nantinya ternyata, pemberian
saya itu menjadikan org pemalas, atau disalahgunakan oleh oknum
tertentu……biarlah menjadi urusan yang bersangkutan kepada Tuhan.
Saya tidak perlu lagi memikirkan,
apakah pemberian tersebut berarti atau tidak.
Apakah saya perlu memikirkan mengapa
pemerintah atau Bapak Presiden seakan-akan menutup mata?
Atau, pernah kah mereka berjalan
dijalan seperti yang saya lakukan malam itu, dan melihat kenyataan seperti itu?
Saya teringat akan 1 lagu dari Grup
Musik Pink, yang berjudul : Dear Mr President.
Dear Mr. President
Come take a walk with me
Let’s pretend we’re just two people and
You’re not better than me
I’d like to ask you some questions if we can speak honestly
What do you feel when you see all the homeless on the street
Who do you pray for at night before you go to sleep
What do you feel when you look in the mirror
Are you proud
How do you sleep while the rest of us cry
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye
How do you walk with your head held high
Can you even look me in the eye
And tell me why
Dear Mr. President
Were you a lonely boy
Are you a lonely boy
Are you a lonely boy
How can you say
No child is left behind
We’re not dumb and we’re not blind
They’re all sitting in your cells
While you pave the road to hell
What kind of father would take his own daughter’s rights away
And what kind of father might hate his own daughter if she were gay
I can only imagine what the first lady has to say
You’ve come a long way from whiskey and cocaine
How do you sleep while the rest of us cry
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye
How do you walk with your head held high
Can you even look me in the eye
Let me tell you ‘bout hard work
Minimum wage with a baby on the way
Let me tell you ‘bout hard work
Rebuilding your house after the bombs took them away
Let me tell you bout hard work
Building a bed out of a cardboard box
Let me tell you bout hard work
Hard work
Hard work
You don’t know nothing bout hard work
Hard work
Hard work
Oh
How do you sleep at night
How do you walk with your head held high
Dear Mr. President
You’d never take a walk with me
Would you?
Rasanya tidak perlu saya menghabiskan
waktu dengan berusaha agar Presiden mendengar & melihat.
Saya sebagai pribadi pun sebenernya
memiliki “kekuasaan”, sebagaimana adanya saya…kekuasaan atas diri saya.
Setiap kita, dalam posisi apapun,
sebagai majikan di rumah, sebagai atasan di kantor, sebagai pemilik perusahaan
atau apapun yang menempatkan diri kita sebagai orang yang “memiliki kuasa”,
atau “menentukan hajat hidup orang lain”…….. pernah kah kita mencoba utk
“berjalan” bersama orang-orang tsb ? Bersikap bahwa tidak ada perbedaan antara
kita dan org tsb, bahwa kita tidak lebih “punya” atau lebih baik dari org tsb
? Bersikap tidak hanya simpati, namun juga empati ?
Memahami mengapa seseorang harus
“mengemis” daripada menyibukan diri dengan pertanyaan apakah “pemberian” kita
akan berakibat buruk bagi org tsb?
Sehingga lagu itu sebenarnya bukan
ditujukan bagi Bapak Presiden yang duduk di Istana Negara saja, tapi juga bagi
diri saya, dengan segala kecukupan dan kelebihan yang saya miliki.
Ada pepatah yang mengatakan : sebab
nila setitik rusak susu sebelanga.
Tapi saya gemar membalik pepatah itu
menjadi : susu setitik tidak mungkin memutihkan tinta sebelanga.
Tapi, lebih baik saya menjadi setitik
susu dari pada tidak menjadi apapun sama sekali.
Lebih baik saya menjadi setitik susu
sambil berharap, ada titik-titik susu lainnya yang selanjutnya akan berkumpul
hingga sanggup memutihkan tinta sebelanga itu…….